Senin, 06 Desember 2010

Video Syaikh Albani

1. Tazkiyah Syaikh Albani kepada Syaih Muqbil dan Syaikh Robi'




2. Tangisan Syaikh Albani


Transkrip percakapan:

Percakapan ini terjadi antara Syaikh Albani rahimahullah dan seorang wanita dari algeria [didengar dari rekaman suaranya, kemungkinan besar komunikasi ini terjadi melalui telpon, atau ketika diadakannya ceramah oleh Syaikh.

[wanita] : Ya Syaikh! Saya mempunyai berita!

[Syaikh] : Saya berharap Allah merahmatimu dengan berita bagus.

[wanita] : Salah satu akhwat pernah bermimpi, dan saya akan memberitahukannya kepada engkau.

[Syaikh] : Saya berharap dia melihat sesuatu yang baik.

[Wanita] : Ya Syaikh! apakah jika seseorang ingin menceritakan mimpinya kemudian mengatakan “Saya harap kamu melihat sesuatu yang bagus dan berharap itu bagus” Apakah itu sesuai dengan sunnah?”

[Syaikh] : Tidak, ucapan ini tidak ada dalam sunnah, tapi tidak mengapa mengucapkannya

[Wanita]: Seorang teman bermimpi, dalam mimpi itu iya berada dalam sebuah ruangan, yang didalam ruangan itu ada jalan. Dan diatas jalan ini dia melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam [ia mengenalnya dari ciri-cirinya]. Dan dia melihatku berdiri didepan Rasulullah, dan melihat Rasulullah senyum kepadaku, dan aku pun senyum kepada Rasulullah . Kemudian aku memanggil memanggil teman tersebut, dan berkata kepadanya “mendekatlah kemari kepada kami”. Dia pun mendekat dan bertanya kepadaku, siapakah orang yang engkau lihat ini?”

Kemudian aku berkata; “Lihatlah kepada orang yang melihat kepadaku ini” , dia pun melihat Rasulullah.

Rasulullah kemudian tersenyum, dan meneruskan perjalanannya di atas jalan tersebut.

Kami kemudian berjalan bersama (aku dan teman yang menceritakan mimpi ini). Dan ketika kami sedang berjalan, kami melihat seorang Syaikh yang juga sedang berjalan pada jalan yang sama.

Kami pun mengucapkan “Assalamualaikum”

Syaikh tersebut kemudian menjawab “Waalaikumsalam Warrahmatullah wa barakatuh”

Kemudian Syaikh tersebut bertanya kepada kami “Apakah kalian melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam?

Kami menjawab “ya, kami melihat beliau”

Temanku kemudian bertanya kepadaku “Siapakah Syaikh ini?”

Akupun berkata kepadanya “Ini adalah Syaikh Albani”

[akhir dari mimpi]

Wanita yang bercerita itu kemudian berkata “Aku berdoa kepada Allah untuk menjadikan mimpi ini menjadi kabar baik untuk mu Ya Syaikh, dan aku ingin memberitahu , semoga ini menjadi berita baik – insya allah, bahwa engkau telah berjalan di atas jalan sunnah ya Syaikh. Insya allah ta’ala . “bagaimana pendapatmu Syaikh?”

Disini Syaikh tidak mengatakan apapun, air mata beliau terlihat mulai bercucuran dan beliau rahimahullah pun menangis. [tangisan ini sempat terekam selama 2 menit, sebelum kemudian beliau menyuruh orang-orang yang berada disekitar beliau untuk meninggalkan beliau sendiri]

sumber text


3. Tilawah Syaikh Albani





4. Pembelaan Syaikh Muhammad Hasan terhadap Syaikh Albani


دفاع الشيخ محمد حسان عن العلامة المحدث الألباني رحمه الله

Transkrip bebas ucapan Syaikh Muhammad Hassân hafizhahullâhu :

Datang sebuah pertanyaan dari Yordania, yang menyesakkan dada dan menyedihkan jiwa, yaitu ada beberapa masyaikh yang menuduh Syaikh al-Albânî dengan tuduhan irjâ` (berpemahaman murji`ah), bahkan mencela dan menvonis syaikh al-Albânî dengan kesesatan. Saya berlindung kepada Allôh dan saya berlindung kepada Allôh! Kami memohon kepada Allôh Subhânahu agar melimpahkan rahmat-Nya kepada guru kami, Abû ‘Abdirrahman, asy-Syaikh al-Albânî, dengan rahmat-Nya yang luas, dan mengganjar beliau dengan sebaik-baik balasan atas (jerih payahnya) terhadap Islam dan kaum muslimin.

Namun ironinya, sungguh ironi! Banyak manusia yang berlomba-lomba untuk mencari ketenaran dan popularitas. Ketahuilah wahai saudaraku! Semoga Allôh memberikan taufik-Nya kepadaku dan Anda kepada keridhaan Allôh, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang takut dan bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya takwa. Ketahuilah, bahwa darah para ulama itu beracun! Ketahuilah bahwa darah para ulama itu beracun!! Dan sudah menjadi hal yang lazim bagi Allôh bahwa Ia akan membongkar aib orang-orang yang gemar merendahkan orang lain, barangsiapa yang melepaskan kendali lisannya dengan mencela para ulama, niscaya Allôh akan menimpakan kematian bagi hatinya sebelum datang ajalnya.

Al-Albânî rahimahullâhu dicela kehormatannya, padahal beliau telah melakukantajdîd (pembaharuan), memperbaharui agama ini. Saya katakan sebagaimana dikatakan para imam (ahlus sunnah), yaitu beliau melakukan tajdîd terhadap agama ini dengan keutamaan Allôh Tabâroka wa Ta’âlâ, yaitu memperbaharui ilmu hadits dan ilmu sunnah di zaman ini. Termasuk rahmat Allôh Azza wa Jalla, yaitu AllôhTabâroka wa Ta’âlâ mengutus bagi umat ini setiap abad (100 tahun), orang yang memperbaharui agama ini. Ini adalah perkataan yang benar, yang saya beragama dengannya. Saya beragama dengannya dan saya jadikan sebagai bagian dari agama, yaitu bahwa Syaikh al-Albânî termasuk mereka (mujaddidîn) ini.

Bukanlah suatu keharusan bahwa Allôh hanya mengutus seorang mujaddid saja, dan tidaklah mengapa di suatu zaman berkumpul lebih dari seorang mujaddid dengan keutamaan Allôh Azza wa Jalla. Syaikh al-Albânî Rahimahullâhu Rahmatan Wâsi’ahtermasuk orang yang Allôh Azza wa Jalla utus di zaman ini untuk melakukan pembaharuan agama ini, yang memperharui ilmu hadits. Iya! Bahkan saya katakan dengan sepenuh lisan saya, bahwa tidak ada seorang penuntut ilmu pun di muka bumi ini, baik ia seorang yang mencintai Syaikh al-Albânî atau menentangnya, melainkan ia pasti ber-istifâdah (mengambil faidah) dari buku-buku syaikh, dari ilmu beliau, dan dari jerih payah beliau. Tidak ada yang mengingkari keutamaan orang-orang yang memiliki keutamaan melainkan ia adalah orang yang tidak tahu diri, dan tidak ada orang yang mengetahui keutamaan ahlul fadhl (orang yang memiliki keutamaan) melainkan ia adalah orang yang juga memiliki keutamaan (ahlul fadhl). Syaikh al-Albânî termasuk orang yang memiliki keutamaan.

Ada sekelompok orang yang menentang kita yang menuduh syaikh al-Albânî adalah seorang murji`ah padahal beliau adalah seorang imam diantara imam-imam ahlus sunnah. Beliau adalah imam diantara imam-iman ahlus sunnah! Wahai saudaraku, jika Anda menginginkan untuk menghukumi secara obyektif terhadap al-‘Allâmah al-Albânî, maka bacalah manhaj (metodologi) syaikh secara keseluruhan (sempurna). Jangan berhenti hanya pada sebuah kalimat atau ucapan yang Anda memahaminya tidak sebagaimana yang dimaksudkan atau difahami Syaikh al-Albânî, atau Anda memahami ucapan atau ungkapan syaikh dengan pemahaman yang menyelisihiushul, aqidah dan manhaj syaikh.

Sesungguhnya, manhaj Syaikh al-Albânî itu terang seterang matahari di pagi dan siang hari yang cahayanya terang benderang. Tidak boleh sedikitpun bagi para penuntut ilmu, siapa pun dia dan bagaimanapun tingkat keilmuannya, berhenti pada kalimat dan ucapan, yang difahami tidak sebagaimana difahami syaikh, yang ucapan tersebut dipotong dari ushul dan keseluruhan manhaj Syaikh. Padahal perkataan beliau yang lainnya begitu terang dan indahnya, dan komentar-komentar beliau begitu jelasnya, baik terhadap buku Aqîdah ath-Thohâwiyah ataupun selainnya, yang menetapkan bagaimana murninya aqidah syaikh dan beliau termasuk imam ahlus sunnah wal jama’ah yang sebenarnya di zaman ini, dengan keutamaan AllôhAzza wa Jalla.

Kemudian, perlu diketahui bahwa saya mengatakan hal ini, bukan untuk menetapkan sifat ishmah (ma’sum) bagi Syaikh al-Albânî, selama-lamanya tidak! Bahkan, saya pun tidak pernah menetapkan sifat ishmah bagi Abû Bakr ash-Shiddiq Radhiyallâhu ‘anhu. Hanya saja, kami berpendapat dan berkeyakinan bahwa al-Ishmah telah dikubur bersamaan dengan dimakamkannya al-Musthofa Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam. Apabila Anda berbeda pendapat dengan syaikh pada suatu permasalahan, maka kami menghormati dan menerimanya, ini tidak mengapa. Atau bahkan jika Anda berbeda pendapat dengan syaikh pada puluhan permasalahan, maka kami tetap menghormati dan menerimanya, tidak mengapa.

Namun, jika Anda memperburuk citra syaikh, atau menuduh syaikh dengan tuduhan batil, atau menvonis syaikh sesat, maka ini merupakan cara yang hina. Inilah kesesatan yang nyata itu! Demi Allôh Yang Maha Agung, ini adalah kesesatan yang nyata! Ini adalah cara yang hina, dan cara yang buruk di dunia dan akhirat. Seorang ulama tidak boleh seorangpun melepaskan kendali untuk mencela kehormatannya, karena beliau (ulama) adalah pewaris Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam.

Adapula sekelompok orang yang menentang kita, mengatakan syaikh mutasâhil(orang yang mudah) di dalam menilai keshahihan sebuah hadits. Demi Allôh, kalian orang yang tidak faham dengan ucapan kalian sendiri, kalian tidak faham ushul(pokok) di dalam tajrih dan kaidah di dalam ta’dil. Seorang yang menghabiskan seluruh waktunya untuk memberikan pondasi di dalam kaidah-kaidah (ilmu hadits), namun begitu mudahnya mereka mencela syaikh sebagai orang yang mutasâhil di dalam menilai keshahihan sebuah hadits, bahkan menuduh beliau dengan kesesatan dan irjâ`, padahal beliau adalah seorang imam ahlus sunnah. Hal ini, demi Rabb pemilik Ka’bah, adalah sebuah kesesatan yang nyata!

Perselisihan dan perbedaan pendapat di dalam masalah ahkâm begitu banyaknya. Sekiranya setiap ada masalah ahkâm yang diperselisihkan oleh dua orang muslim menyebabkan mereka saling meng-hajr (memboikot), niscaya tidak akan tersisa di tengah-tengah kaum muslimin ini ukhuwah, tidak akan ada lagi ukhuwah.

Jadi, tidaklah mengapa Anda berlainan pendapat dengan syaikh, baik di dalam masalah tashhîh (menilai shahih sebuah hadits), tahsîn (menilai hasan) ataupuntadh’îf (mendhaifkan), selama Anda memiliki dalil-dalilnya dan syawâhid (dalil penopang)-nya. Syaikh rahimahullâhu sendiri berapa kali beliau tarâju’ (berubah di dalam menilai sebuah hadits disebabkan adanya dalil-dalil baru), beliau menshahihkan hadits yang sebelumnya beliau hasankan atau mendha’ifkan hadits yang sebelumnya beliau hasankan. Hal ini menunjukkan bagaimana waro’-nya beliau, dan bagaimana bijak dan obyektifnya beliau. Tidaklah sebagaimana yang difahami sebagian orang bahwa beliau rahimahullâhu mutanâqidh (kontradiksi), tidak selamanya! Akan tetapi atas kebijaksanaan dan ilmu, dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum menyebabkanmu tidak berbuat adil. Bersikap adillah karena sikap adil itu lebih dekat dengan ketakwaan (al-Mâ`idah : 8).

Allôh Subhânahu berfirman :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS al-Isrâ` : 36)

Saya memohon kepada Allôh Jalla wa ‘Ala agar melimpahkan rahmatnya kepada Syaikh al-Albânî rahmat-Nya yang luas, dan memberkahi murid-murid beliau, menjadikan mereka seperti gurunya dan menjadikan eksistensi mereka bermanfaat bagi negeri dan umat di seluruh penjuru dunia, dan sesungguhnya Ia adalah penolong dan Maha Berkemampuan atasnya. Saya juga memohon kepada Allôh Azza wa Jallauntuk mengampuni saudara-saudara kita, dosa-dosa kita dan mereka…

[Selesai ditranskrip secara bebas oleh Al-Faqîr ila ‘Afwa Rabbihi Abû Salmâ al-Atsarî –semoga Allôh mengampuni kesalahan-kesalahannya-. Semoga Allôh merahmati al-Imâm al-Muhaddits Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî dan memberkahi murid-murid beliau, dan semoga Allôh membalas Syaikh Muhammad Hassân dengan pahala yang berlimpah]


sumber transkrip


5. Syaikh Muhammad Hasan: Ketika Syaikh Albani, Syaih Bin Baz dan Syaikh Ibn Utsaimin bertemu dalam Haji






Jumat, 03 Desember 2010

Biografi Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

video biografi syaikh al-bani



Beliau adalah Pembaharu Islam (mujadid) pada abad ini. Karya dan jasa-jasa beliau cukup banyak dan sangat membantu umat Islam terutama dalam menghidupkan kembali ilmu Hadits. Beliau telah memurnikan Ajaran islam terutama dari hadits-hadits lemah dan palsu, meneliti derajat hadits.


Gambar 1 Tempat lahir syaikh albani di Albania






Nama dan Nasabnya

Nama beliau adalah Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh al-Albani. Dilahirkan pada tahun 1333 H di kota Ashqodar ibu kota Albania yang lampau. Beliau dibesarkan di tengah keluarga yang tak

berpunya, lantaran kecintaan terhadap ilmu dan ahli ilmu.Ayah al Albani yaitu Al Haj Nuh adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari`at di ibukota negara dinasti Utsmaniyah (kini Istambul), yang ketika Raja Ahmad Zagho naik tahta di Albania dan mengubah sistem pemerintahan menjadi pemerintah sekuler, maka Syeikh Nuh amat mengkhawatirkan dirinya dan diri keluarganya. Akhirnya beliau memutuskan untuk berhijrah ke Syam dalam rangka menyelamatkan agamanya dan karena takut terkena fitnah. Beliau sekeluargapun menuju Damaskus.

Gambar 2 Rumah beliau di Syiria

Setiba di Damaskus, Syeikh al-Albani kecil mulai aktif mempelajari bahasa arab. Beliau masuk sekolah pada madrasah yang dikelola oleh Jum`iyah al-Is`af al-Khairiyah. Beliau terus belajar di sekolah tersebut tersebut hingga kelas terakhir tingkat Ibtida`iyah. Selanjutnya beliau meneruskan belajarnya langsung kepada para Syeikh. Beliau mempelajari al-Qur`an dari ayahnya sampai selesai, disamping itu mempelajari pula sebagian fiqih madzab Hanafi dari ayahnya.

Syeikh al-Albani juga mempelajari keterampilan memperbaiki jam dari ayahnya sampai mahir betul, sehingga beliau menjadi seorang ahli yang mahsyur. Ketrampilan ini kemudian menjadi salah satu mata pencahariannya.

Pada umur 20 tahun, pemuda al-Albani ini mulai mengkonsentrasi diri pada ilmu hadits lantaran terkesan dengan pembahasan-pembahsan yang ada dalam majalah al-Manar, sebuah majalah yang diterbitkan oleh Syeikh Muhammad Rasyid Ridha. Kegiatan pertama di bidang ini ialah menyalin sebuah kitab berjudul al-Mughni `an Hamli al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah min al-Akhbar. Sebuah kitab karya al-Iraqi, berupa takhrij terhadap hadits-hadits yang terdapat pada Ihya` Ulumuddin al-Ghazali. Kegiatan Syeikh al-Albani dalam bidang hadits ini ditentang oleh ayahnya seraya berkomentar. Sesungguhnya ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit (bangkrut).

Namun Syeikh al-Albani justru semakin cinta terhadap dunia hadits. Pada perkembangan berikutnya, Syeikh al-Albani tidak memiliki cukup uang untuk membeli kitab-kitab. Karenanya, beliau memanfaatkan Perpustakaan adh-Dhahiriyah di sana (Damaskus). Di samping juga meminjam buku-buku dari beberapa perpustakaan khusus. Begitulah, hadits menjadi kesibukan rutinnya, sampai-sampai beliau menutup kios reparasi jamnya. Beliau lebih betah berlama-lama dalam perpustakaan adh-Dhahiriyah, sehingga setiap harinya mencapai 12 jam. Tidak pernah istirahat mentelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu sholat tiba. Untuk makannya, seringkali hanya sedikit makanan yang dibawanya ke perpustakaan.

Akhirnya kepala kantor perpustakaan memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuk beliau. Bahkan kemudiaan beliau diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Dengan demikian, beliau menjadi leluasa dan terbiasa datang sebelum yang lainnya datang. Begitu pula pulangnya ketika orang lain pulang pada waktu dhuhur, beliau justru pulang setelah sholat isya. Hal ini dijalaninya sampai bertahun-tahun.

Pengalaman Penjara

Syeikh al-Albani pernah dipenjara dua kali. Kali pertama selama satu bulan dan kali kedua selama enam bulan. Itu tidak lain karena gigihnya beliau berdakwah kepada sunnah dan memerangi bid`ah sehingga orang-orang yang dengki kepadanya menebarkan fitnah.

Beberapa Tugas yang Pernah Diemban

Syeikh al-Albani Beliau pernah mengajar di Jami`ah Islamiyah (Universitas Islam Madinah) selama tiga tahun, sejak tahun 1381-1383 H, mengajar tentang hadits dan ilmu-ilmu hadits. Setelah itu beliau pindah ke Yordania. Pada tahun 1388 H, Departemen Pendidikan meminta kepada Syeikh al-Albani untuk menjadi ketua jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah Perguruan Tinggi di kerajaan Yordania. Tetapi situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan beliau memenuhi permintaan itu. Pada tahun 1395 H hingga 1398 H beliau kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam`iyah Islamiyah di sana. Mandapat penghargaan tertinggi dari kerajaan Saudi Arabia berupa King Faisal Fundation tanggal 14 Dzulkaidah 1419 H.

Beberapa Karya Beliau

Karya-karya beliau amat banyak, diantaranya ada yang sudah dicetak, ada yang masih berupa manuskrip dan ada yang mafqud (hilang), semua berjumlah 218 judul. Beberapa Contoh Karya Beliau yang terkenal adalah :

  1. Adabuz-Zifaf fi As-Sunnah al-Muthahharah
  2. Al-Ajwibah an-Nafi`ah `ala as`ilah masjid al-Jami`ah
  3. Silisilah al-Ahadits ash Shahihah
  4. Silisilah al-Ahadits adh-Dha`ifah wal maudhu`ah
  5. At-Tawasul wa anwa`uhu
  6. Ahkam Al-Jana`iz wabida`uha

Di samping itu, beliau juga memiliki kaset ceramah, kaset-kaset bantahan terhadap berbagai pemikiran sesat dan kaset-kaset berisi jawaban-jawaban tentang pelbagai masalah yang bermanfaat.

Selanjutnya Syeikh al-Albani berwasiat agar perpustakaan pribadinya, baik berupa buku-buku yang sudah dicetak, buku-buku foto copyan, manuskrip-manuskrip (yang ditulis oleh beliau sendiri ataupun orang lain) semuanya diserahkan ke perpustakaan Jami`ah tersebut dalam kaitannya dengan dakwah menuju al-Kitab was Sunnah, sesuai dengan manhaj salafush Shalih (sahabat nabi radhiyallahu anhum), pada saat beliau menjadi pengajar disana.

Wafatnya

Beliau wafat pada hari Jum`at malam Sabtu tanggal 21 Jumada Tsaniyah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yoradania. Rahimallah asy-Syaikh al-Albani rahmatan wasi`ah wa jazahullahu`an al-Islam wal muslimiina khaira wa adkhalahu fi an-Na`im al-Muqim.


sumber text

Menu

Spirit...

My Links Related